JENDELA RUMAH SAKIT

Cerita ini pernah gue ceritain waktu gue dihukum dikelas teh rinrin waktu tingkat 2,,waktu itu gue telat dan disuruh ngasih motivasi di depan kelas dan gue nyeritain cerita ini,,,

Hidup adalah bagaimana cara kita memandang dan memahami kehidupan ini. Kebahagiaan terletak pada perspektif kita terhadap kehidupan ini.
Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang di antaranya bernama malik, dia menderita suatu penyakit yang mengharuskan duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu.
Sedangkan pria yang lain bernama ridwan harus berbaring lurus di atas punggungnya, pria ini menderita lumpuh dan sehari-hari dia hanya berbaring di tempat tidurnya, dia sungguh sangat merasa bosan karena setiap waktu yang dilihatnya hanya cat putih rumah sakit, rasanya ingin mati saja,kata-kata itu sering terucap dari mulutnya.
Tapi semenjak adanya malik, keadaan menjadi lebih baik. Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.
Setiap sore, ketika malik yang tempat tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada ridwan rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, ridwan merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indah semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.
“Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah.”
Malik menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan ridwan berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu. Perasaanya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah.
Pada suatu sore yang lain, Malik menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meski ridwan tidak dapat melihatnya, tapi melalui pandangan mata malik yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah, semua terasa menjadi sangat nyata.
Begitulah seterusnya, dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlalu.
Hingga pagi yang tidak biasa itu datang, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata malik yang tempat tidurnya didekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu lalu memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah.
Ridwan benar-benar sangat sedih, orang yang selama ini membangkitkan semangatnya kembali untuk hidup ternyata telah meninggal, ridwan hanya bisa berdoa semoga malik mendapat tempat terbaik disana.
Kemudian pada suatu sore, ridwan memaksa perawat untuk dibantu agar bisa melihat sendiri indahnya pemandangan dari jendela seperti yang diceritakan malik. Dengan perlahan dan kesakitan, ridwan memaksakan dirinya untuk bangun dibantu perawat. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahaan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG !!!
Ia sungguh kaget dan menanyakan kepada perawat apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang BUTA dan tidak bisa melihat tembok sekalipun. Ia hanya ingin memberimu semangat hidup, kata perawat itu.

Sungguh indah ketika kita selalu bisa memberikan semangat dan berbagi kebahagiaan bahkan hingga saat-saat terakhir.

ARTI SAHABAT

Di sebuah perumahan di Jakarta. Hiduplah pasangan muda dengan satu orang anak. Nadia adalah nama anak itu, anak kecil berusia 8 tahun dengan wajah cantik mirip ibunya, dan rambut hitam panjang dan terlihat sangat lucu dengan hiasan-hiasan di rambutnya.
Pagi itu, terjadi percakapan dirumah itu, Susi, sang istri berkata kepada Azzam suaminya “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu Nadia anak perempuanmu tersayang untuk makan.”

Azzam kemudian menaruh koran yang sedang dibacanya dan melihat anak perempuan satu2nya, Nadia, tampak ketakutan dan air matanya mengalir karena harus dipaksa makan brokoli. Di depannya ada semangkuk sayur penuh brokoli. Nadia anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Tapi Dia sangat tidak suka makan sayuran ini. Tapi Nadia harus memakannya agar sehat.

Azzam mulai menyuapi dan berkata:
“Nadia sayang, demi papa, maukah kamu makan beberapa brokoli ini? Kalau tidak, nanti mama akan teriak2 sama papa, dia akan memarahi papa.”

Azzam melihat susi cemberut dibelakangnya. Dengan rayuan Azzam, Tangis Nadia mulai mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata:
“Boleh pa, akan aku makan Brokoli ini tidak hanya beberapa, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta…” agak ragu2 sejenak… “….akan minta sesuatu sama papa bila habis semuanya. Apakah papa mau berjanji memenuhi permintaanku? ”

Azzam menjawab: “hmmmmm”.

Nadia: “ayo donk pa?”aku juga janji akan menjadi anak yang rajin…

“iYah pasti..” sambil menggenggam tangan Nadia yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.

Nadia juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama,akhirnya susi pun mengiyakan, “iya mama janji anakku..”

Azzam sedikit khawatir dan berkata:
“Nadia, jangan minta barang-barang yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.”
Nadia: “Jangan khawatir, aku tidak minta barang2 mahal kok.”

Kemudian Nadia dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua brokoli itu. Azzam kasihan juga melihat anaknya terpaksa memakan sayuran itu…

Setelah Nadia memakan brokoli itu, ternyata dia tidak langsung meminta apa keinginannya, tapi hari-hari setelah itu Nadia menjadi begitu rajin dirumah maupun disekolah, mulai dari rajin mengerjakan tugas, sampai membantu menyapu,dan pekerjaan rumah tangga,sungguh senang sekali azzam dan Susi…
Sampai akhirnya setelah beberapa hari, pada suatu malam, Nadia mendekati Azzam dan susi yang sedang asyik mengobrol,,

Ternyata Nadia mau kepalanya dibotakin pada hari Minggu!

Susi spontan berkata: “Permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin!”

Aku coba membujuk: “Nadia, kenapa kamu tidak minta hal yang lain saja.. kami semua akan sedih melihatmu botak.”

Tapi Nadia tetap dengan pilihannya: “Tidak ada pa, tak ada keinginan lain.”

Azzam terus memohon kepada Nadia:
“Tolonglah nak, kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami!”

Nadia, dengan menangis, berkata:
“papa sudah melihat bagaimana aku menghabiskan brokoli itu, papa juga sudah liat aku rajin dirumah dan disekolah, dan papa sendiri sudah berjanji untuk memenuhi permintaanku. Kenapa papa sekarang mau menarik perkataan papa sendiri? Bukankah papa sendiri yang mengajarkan pelajaran bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi.
Setelah mendengar perkataan itu, akhirnya Azzam memutuskan untuk memenuhi permintaan nadia: “Janji kita harus ditepati..”

Susi langsung berkata: “Apa kamu sudah gila?”

Azzam: “Tidak, kalau kita menjilat ludah sendiri, Nadia tidak akan pernah belajar bagaimana arti pentingnya sebuah janji”

Minggu itupun Nadia benar-benar dibotaki, Dengan kepala botak, wajah Nadia nampak bundar dan matanya besar dan bagus.

Hari Senin Azzam mengantarnya ke sekolah, sekilas Nadia dengan kepala botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepada Azzam sambil tersenyum.
Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak: “Nadia,tunggu aku.”

Yang mengejutkan adalah ternyata kepala anak laki2 itu botak, apa memang mungkin “botak” model jaman sekarang…???

Kemudian Tanpa memperkenalkan dirinya, seorang wanita keluar dari mobil dan berkata:
“Anda Bapaknya Nadia,,,??”
“iya, benar”
“Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih, dengan apa saya bisa membalas semua ini…???Anak anda, Nadia, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Haris, adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia.”

Wanita itu berhenti berkata-kata, dan terlihat air matanya mulai meleleh dipipinya:
“Bulan lalu Haris tidak masuk sekolah, karena chemotherapy dan kepalanya menjadi botak, jadi dia tidak mau pergi ke sekolah, takut diejek oleh teman2 sekelasnya. Nah, minggu lalu Nadia datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya, saya betul2 tidak menyangka kalau Nadia mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Haris. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Allah, mempunyai anak perempuan yang berhati mulia seperti Nadia.”

Azzam hanya berdiri terpaku dan tidak terasa air matanya meleleh…
Ternyata Nadia telah belajar begitu banyak tentang indahnya pengorbanan bagi seorang sahabat…

I Cried for my brother six times . . .

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
mana semua gadis disekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri seribu rupiah dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.”Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangan ayah dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. sudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk mengakui kesalahan. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih terlihat seperti baru kemarin. Aku tidak pernah lupa bagaimana wajah adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11 tahun.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. aku mendengarnya berbicara, “Kedua anak kita telah berhasil dengan baik…mereka sangat berprestasi” kemudian Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “ Tapi Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”sambil menangis…

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi, aku telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu lemah? Bahkan jika saya harus mengemis di jalanan, saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Kemudian ia mengetuk pintu setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Aku akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab,tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak peduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “aku melihat semua gadis kota memakainya. Jadi aku pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah kerjaan adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Sudah sering suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja.aku akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja menjadi direktur, dan aku hampir tidak berpendidikan. Jika aku menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan terkabar?”

Mata suamiku dipenuhi air mata,
dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah:
“Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?”
Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa berpikir ia langsung menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika aku pergi sekolah SD yang berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan aku berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, aku kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sendoknya. Sejak hari itu, aku bersumpah, selama aku masih hidup, aku akan menjaga kakakku dan berbuat baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling berjasa adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku.

HANDPHONE SIAPA…???

Sekumpulan pria berada di ruang ganti di salah satu tempat gym terkenal dan eksklusif di jakarta. Tiba2 terdengar deringan hp di ruang ganti. Salah satu dari pria itu menjawab panggilan tersebut, dan terjadilah obrolan berikut:

“Hallo? Abang, ini ayang. ”

“Eemmmmm…. “” Abang masih di tempat gym ya?”

” Iya…”

” Ayang sekarang lagi ada di mall dekat tempat gym Abang. Ayang lihat Louis Vuitton punya koleksi tas baru. Harganya murah kok, cuma Rp. 7 juta saja…Boleh beli nggak, Bang?”

” O.K, beli saja kalau kamu memang suka.”

“Ahhhhh…. thanks Abang, dan tadi sebelum ayang ke sini, ayang ke pameran mobil dan liat mobil Mercedes terbaru. Ayang suka banget dengan modelnya, dan ayang juga sudah ngobrol dengan penjualnya, dia setuju mau kasi ‘good price’. Lagian kan bagus juga kalau mobil BMW yang kita beli tahun lalu itu ditukar dengan yang baru. ”

“Berapa harga yang dia kasih?”

” Lagi harga promo, jadi cuma Rp. 550 juta aja, bang…”” O.K lah, pastikan harga itu sudah ‘on the road’.”

” Great, ada 1 lagi, bang. “”Apa?”

” Tadi pagi ayang iseng-iseng singgah ke agen real estate dan ternyata rumah yang kita lihat kemarin itu ternyata dijual..!!! Abang ingat tidak?? Rumah seluas 1000 meter di Kebayoran Baru yang ada kolam renang berbentuk love, terus ada taman orchidnya di belakang rumah yang berhadapan lapangan tenis itu, dan yang garasinya muat 4 mobil itu…. Cantik kan bang? ”

“Berapa harganya?”

” Cuma Rp. 10 milyar saja. OK kan harganya? ”

“Ya sudah, kalo kamu bisa tawar jadi Rp. 9 milyar, beli aja…”

” OK Abang sayang, terima kasih bang. Sampai nanti malam ya?? I luv u.”

” Bye… i luv u too. “Pria itu berhenti berbicara dan menutup ‘flip’ hp nya.

Sambil mengangkat tangan dan memegang hp itu, dia bertanya pada orang-orang yang di ruangan tersebut, dan dengan suara keras dia berkata: “ADA YANG TAHU NGGAK, INI HANDPHONE PUNYA SIAPA !!???”

Mengapa Cincin Pernikahan Ditaruh di Jari Manis??

Ikuti langkah berikut ini,

1. Pertama, tunjukkan telapak tangan anda, jari tengah ditekuk ke dalam

2. Kemudian, 4 jari yang lain pertemukan ujungnya.

3. Permainan dimulai , 5 pasang jari tetapi hanya 1 pasang yang tidak terpisahkan…

4. Cobalah membuka ibu jari anda, ibu jari menwakili orang tua, ibu jari bisa dibuka karena semua manusia mengalami sakit dan mati. Dengan demikian orang tua kita akan meninggalkan kita suatu hari nanti.

5. Tutup kembali ibu jari anda, kemudian buka jari telunjuk anda, jari telunjuk mewakili kakak dan adik anda, mereke memiliki keluarga sendiri, sehingga mereka juga akan meninggalkan kita.

6. sekarang tutup kembali jari telunjuk anda, buka jari kelingking, yang mewakili anak2. cepat atau lambat anak2 juga akan meninggalkan kita krn hrs berkeluarga sendiri.

7. selanjutnya, tutup jari kelingking anda, bukalah jari manis anda tempat dimana kita menaruh cincin perkawinan anda, anda akan heran karena jari tersebut tidak akan bisa dibuka. Karena jari manis mewakili suami dan istri, selama hidup anda dan pasangan anda akan terus melekat satu sama lain.

SEBELUM MENIKAH VS SESUDAH MENIKAH

Ketika Masih Pacaran…
Cowok : Akhirnya, aku sudah menunggu saat ini tiba sejak lama
Cewek : Apakah kau rela kalau aku pergi?
Cowok : Tentu Tidak!!Jangan pernah kau berpikiran seperti itu
Cewek : Apakah Kau mencintaiku ??
Cowok : Tentu !! Selamanya akan tetap begitu
Cewek : Apakah kau pernah selingkuh??
Cowok : Tidak !! Aku tak akan pernah melakukan hal buruk itu
Cewek : Maukah kau menciumku ??
Cowok : Ya
Cewek : Sayangku…. …
Ketika sudah 5 tahun nikah….tinggal baca dari bawah ke atas ,,,,,,!

DARI PACAR JADI ISTRI

b

Girlfriend 5.0 to Wife 1.0

Dear Tech Support Team:

Last year I upgraded from Girlfriend 5.0 to Wife 1.0. I soon noticed that the new program began unexpected child-processes that took up a lot of space & valuable resources. In addition, Wife 1.0 installed itself into all other programs & now monitors all other system activities.

Applications such as BachelorNights 10.3, futsall 5.0, Hangout7.5, & Outings 3.6 no longer runs, crashing the system whenever selected. I can’t seem to keep Wife 1.0 in the background while attempting to run my favorite applications.
I’m thinking about going back to Girlfriend 5.0 , but the ‘uninstall’ doesn’t work on Wife 1.0.

Please help!

Thanks,
“A Troubled User”

REPLY: Dear Troubled User:

This is a very common problem that people complain about. Many people upgrade from Girlfriend 5.0 to Wife 1.0, thinking that it is just a Utilities & Entertainment program. Wife 1.0 is an OPERATING SYSTEM & is designed by its Creator to run EVERYTHING!!! It is also impossible to delete Wife 1.0 & to return to Girlfriend 5.0.

It is impossible to uninstall, or purge the program files from the system once installed. You cannot go back to Girlfriend 5.0 because Wife 1.0 is designed not to allow this. (Look in your Wife 1.0 Manual under Warnings-Alimony-Child Support) .
I recommend that you keep Wife1.0 & work on improving the environment. I suggest installing the background application “Yes Dear” to alleviate software augmentation. The best course of action is to enter the command C:\APOLOGIZE because ultimately you will have to give the APOLOGIZE command before the system will return to normal anyway.

Wife 1.0 is a great program, but it tends to be very high maintenance. Wife 1.0 comes with several support programs, such as Clean 2.5, Sweep3.0, Cook 1.5 & Do Laundry 4.2. However, be very careful how you use these programs. Improper use will cause the system to launch the program NagNag 9.5 . Once this happens, the only way to improve the performance of Wife 1.0 is to purchase additional software. I recommend Apparels 2.1 & Diamond Jewellery 5.0

WARNING: DO NOT, under any circumstances, install SecretaryWithShortSkirt3.3

. This application is not supported by Wife 1.0 & will cause irreversible damage to the operating system.

Best of luck,
Tech Support

ASLI ATAU PALSU…???

a

Jenny, gadis cantik kecil berusia 5 tahun dan bermata indah. Suatu hari ketika ia dan ibunya sedang pergi berbelanja ia melihat sebuah kalung mutiara tiruan yang sangat Indah, dan harganya-pun cuma 2,5 dolar. Ia sangat ingin memiliki kalung tersebut dan mulai merengek kepada ibunya. Akhirnya sang Ibu setuju, katanya: “Baiklah, anakku. Tetapi ingatlah bahwa meskipun kalung itu sangat mahal, ibu akan membelikannya untukmu. Nanti sesampai di rumah, kita buat daftar pekerjaan yang harus kamu lakukan sebagai gantinya. Dan, biasanya kan Nenek selalu memberimu uang pada hari ulang tahunmu, itu juga harus kamu berikan kepada ibu.” “Okay,” kata Jenny setuju.

Merekapun lalu membeli kalung tersebut. Setiap hari Jenny dengan rajin mengerjakan pekerjaan yang ditulis dalam daftar oleh ibunya. Uang yang diberikan oleh neneknya pada hari ulang tahunnya juga diberikannya kepada ibunya.Tidak berapa lama, perjanjiannya dengan ibunya pun selesai. Ia mulai memakai kalung barunya dengan rasa sangat bangga. Ia selalu memakai kalung itu kemanapun ia pergi. Ke sekolah taman kanak-kanaknya, ke supermarket, bermain, bahkan pada saat ia tidur, kecuali pada saat mandi. “Nanti lehermu jadi hijau,” kata ibunya…

Jenny juga memiliki seorang ayah yang sangat menyayanginya. Setiap menjelang tidur, sang ayah selalu membacakan sebuah buku cerita untuknya. Pada suatu hari seusai membacakan cerita, sang ayah bertanya kepada Jenny; “Jenny, apakah kamu sayang ayah?” “Pasti, yah. Ayah tahu betapa aku menyayangi ayah.””Kalau kau memang mencintai ayah, berikanlah kalung mutiaramu pada ayah.” “Yaa… ayah, jangan kalung ini. Ayah boleh ambil mainanku yang lain, Ayah boleh ambil Rosie, bonekaku yang terbagus, Ayah juga boleh ambil pakaian-pakaiannya yang terbaru tapi jangan ayah ambil kalungku…” “Ya anakku, tidak apa-apa… tidurlah.” Ayah Jenny lalu mencium keningnya dan pergi, sambil berkata: “Selamat malam anakku, semoga mimpi indah.”

Seminggu kemudian setelah membacakan cerita ayahnya bertanya lagi: “Jenny apakah kamu sayang ayah?” “Pasti, Yah. Ayah kan tahu aku sangat mencintaimu. ” “Kalau begitu, boleh ayah minta kalungmu?” “Yaa, jangan kalungku…, Ayah ambil Ribbons, kuda-kudaanku. .. Ayah masih ingat kan ? Itu mainan favoritku. Rambutnya panjang dan lembut. Ayah bisa memainkan rambutnya, mengepangnya dan sebagainya. Ambillah Yah, Asal ayah jangan minta kalungku…” “Sudahlah nak, lupakanlah,” kata sang ayah.

Beberapa hari setelah itu Jenny mulai berpikir, kenapa ayahnya selalu meminta kalungnya? dan kenapa ayahnya selalu menanyai apakah ia sayang padanya atau tidak? Beberapa hari kemudian ketika ayah Jenny membacakan cerita, Jenny duduk dengan resah. Ketika ayahnya selesai membacakan cerita, dengan bibir bergetar ia mengulurkan tangannya yang mungil kepada ayahnya sambil berkata: “Ayah…, terimalah ini..” Ia lepaskan kalung kesayangannya dari genggamannya, dan dengan penuh kesedihan kalung tersebut berpidah ke tangan sang ayah…Dengan satu tangan menggenggam kalung mutiara palsu kesayangan anaknya, tangan yang lainnya mengambil sebuah kotak beludru biru kecil dari kantong bajunya. Di dalam kotak beludru itu terletak seuntai kalung mutiara yang asli, sangat indah dan sangat mahal… Ia telah menyimpannya begitu lama untuk anak yang dikasihinya. Ia menunggu dan menunggu agar anaknya mau melepaskan kalung mutiara plastiknya yang murah, sehingga ia dapat memberikan kepadanya kalung mutiara yang asli

Begitu pula dengan kita…
Seringkali kita tidak mau menyerahkan segala milik kita yang palsu … dan menukarnya dengan sesuatu yang asli dan sangat berharga…yakinlah hanya Allah yang tahu mana yang terbaik untuk kita…
hal yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah…