Sang Guru besar hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata, “hey anak muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu juta?.”
Melihat cincin Guru besar yang kotor, mahsiswa tersebut merasa ragu, “Satu juta?. Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.”
“Cobalah dulu, anak muda. Siapa tahu kamu berhasil.”
Mahasiswa itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu juta. Mereka menawarnya hanya seratus ribu atau dua ratus ribu. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya. Ia kembali ke kampus dan melapor, “pak, tak seorang pun berani menawar lebih dari dua ratus ribu.” Guru besar, sambil tetap tersenyum arif, berkata, “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian.”
Mahasiswa itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Guru besar dengan raut wajah yang lain.
Ia kemudian melapor, “pak, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga sepuluh juta. Rupanya nilai cincin ini berkali-kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”
Guru besar tersenyum simpul sambil berujar lirih, “Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi anak muda.
Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya “para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar” yang menilai demikian. Namun tidak bagi “pedagang emas”. Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses, wahai anak muda. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat SEKILAS.
Anak muda…“Seringkali yang disangka emas ternyata hanya kuningan dan yang kita lihat sebagai kuningan ternyata emas.”
makanya Don’t judge the book by it’s cover yaaaa….
No Comments Yet
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar





