Pagi itu, terjadi percakapan dirumah itu, Susi, sang istri berkata kepada Azzam suaminya “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu Nadia anak perempuanmu tersayang untuk makan.”
Azzam kemudian menaruh koran yang sedang dibacanya dan melihat anak perempuan satu2nya, Nadia, tampak ketakutan dan air matanya mengalir karena harus dipaksa makan brokoli. Di depannya ada semangkuk sayur penuh brokoli. Nadia anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Tapi Dia sangat tidak suka makan sayuran ini. Tapi Nadia harus memakannya agar sehat.
Azzam mulai menyuapi dan berkata:
“Nadia sayang, demi papa, maukah kamu makan beberapa brokoli ini? Kalau tidak, nanti mama akan teriak2 sama papa, dia akan memarahi papa.”
Azzam melihat susi cemberut dibelakangnya. Dengan rayuan Azzam, Tangis Nadia mulai mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata:
“Boleh pa, akan aku makan Brokoli ini tidak hanya beberapa, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta…” agak ragu2 sejenak… “….akan minta sesuatu sama papa bila habis semuanya. Apakah papa mau berjanji memenuhi permintaanku? ”
Azzam menjawab: “hmmmmm”.
Nadia: “ayo donk pa?”aku juga janji akan menjadi anak yang rajin…
“iYah pasti..” sambil menggenggam tangan Nadia yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.
Nadia juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama,akhirnya susi pun mengiyakan, “iya mama janji anakku..”
Azzam sedikit khawatir dan berkata:
“Nadia, jangan minta barang-barang yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.”
Nadia: “Jangan khawatir, aku tidak minta barang2 mahal kok.”
Kemudian Nadia dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua brokoli itu. Azzam kasihan juga melihat anaknya terpaksa memakan sayuran itu…
Setelah Nadia memakan brokoli itu, ternyata dia tidak langsung meminta apa keinginannya, tapi hari-hari setelah itu Nadia menjadi begitu rajin dirumah maupun disekolah, mulai dari rajin mengerjakan tugas, sampai membantu menyapu,dan pekerjaan rumah tangga,sungguh senang sekali azzam dan Susi…
Sampai akhirnya setelah beberapa hari, pada suatu malam, Nadia mendekati Azzam dan susi yang sedang asyik mengobrol,,
Ternyata Nadia mau kepalanya dibotakin pada hari Minggu!
Susi spontan berkata: “Permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin!”
Aku coba membujuk: “Nadia, kenapa kamu tidak minta hal yang lain saja.. kami semua akan sedih melihatmu botak.”
Tapi Nadia tetap dengan pilihannya: “Tidak ada pa, tak ada keinginan lain.”
Azzam terus memohon kepada Nadia:
“Tolonglah nak, kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami!”
Nadia, dengan menangis, berkata:
“papa sudah melihat bagaimana aku menghabiskan brokoli itu, papa juga sudah liat aku rajin dirumah dan disekolah, dan papa sendiri sudah berjanji untuk memenuhi permintaanku. Kenapa papa sekarang mau menarik perkataan papa sendiri? Bukankah papa sendiri yang mengajarkan pelajaran bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi.
Setelah mendengar perkataan itu, akhirnya Azzam memutuskan untuk memenuhi permintaan nadia: “Janji kita harus ditepati..”
Susi langsung berkata: “Apa kamu sudah gila?”
Azzam: “Tidak, kalau kita menjilat ludah sendiri, Nadia tidak akan pernah belajar bagaimana arti pentingnya sebuah janji”
Minggu itupun Nadia benar-benar dibotaki, Dengan kepala botak, wajah Nadia nampak bundar dan matanya besar dan bagus.
Hari Senin Azzam mengantarnya ke sekolah, sekilas Nadia dengan kepala botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepada Azzam sambil tersenyum.
Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak: “Nadia,tunggu aku.”
Yang mengejutkan adalah ternyata kepala anak laki2 itu botak, apa memang mungkin “botak” model jaman sekarang…???
Kemudian Tanpa memperkenalkan dirinya, seorang wanita keluar dari mobil dan berkata:
“Anda Bapaknya Nadia,,,??”
“iya, benar”
“Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih, dengan apa saya bisa membalas semua ini…???Anak anda, Nadia, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Haris, adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia.”
Wanita itu berhenti berkata-kata, dan terlihat air matanya mulai meleleh dipipinya:
“Bulan lalu Haris tidak masuk sekolah, karena chemotherapy dan kepalanya menjadi botak, jadi dia tidak mau pergi ke sekolah, takut diejek oleh teman2 sekelasnya. Nah, minggu lalu Nadia datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya, saya betul2 tidak menyangka kalau Nadia mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Haris. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Allah, mempunyai anak perempuan yang berhati mulia seperti Nadia.”
Azzam hanya berdiri terpaku dan tidak terasa air matanya meleleh…
Ternyata Nadia telah belajar begitu banyak tentang indahnya pengorbanan bagi seorang sahabat…
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar






owwhhh..so swit..
hemmm,,,makasiyyy
Bgs bgt critanyaaa
Jd terharu.tmn2,seandainy qt bs spt nadia berkorban demi shabt,indah bgt dunia ini.
Seandainy crita ini difilm kan,pst anak sekolah,khususny anak SD akn memiliki segudang shabat.
akn brkrgny penyimpangan2 yg trjd d masyrkt.
Hayoo,stasiun tv.kreatif dunk
terima kasih cindy,,,,
yuph semoga kita bisa menjadi nadia2 yang lain…